Latar belakang munculnya sosiologi

Posted by admin On Agustus 17, 2016 ADD COMMENTS

Sosiologi merupakan suatu ilmu yang masih muda, walaupun telah mengalami perkembangan yang cukup lama. Sejak manusia mengenal kebudayaan dan peradaban, masyarakat manusia sebagai proses pergaulan hidup telah menarik perhatian. Awal mulanya, orang-orang yang meninjau masyarakat hanya tertarik pada masalah-masalah yang menarik perhatian umum, seperti ; kejahatan, perang, kekuasaan golongan yang berkuasa, keagamaan dan lain sebagainya. Dari pemikiran serta penilaian yang demikian itu, orang kemudian meningkatkan pengetahuannya pada filsafat kemasyarakat, di mana orang menguraikan harapan-harapan tentang susunan serta kehidupan masyarakat yang diinginkan yang lebih ideal.
Perbedaan yang tidak jarang menimbulkan pertentangan antara harapan dan kenyataan, memaksa para ahli pikir (ilmuwan) untuk mencari sebab-sebabnya dengan jalan mempelajari kenyataan-kenyataan di dalam masyarakat, sehingga timbul berbagai macam teori tentang masyarakat. Lambat laun teori-teori tersebut dipelajari dan dikembangkan secara sistematis dan netral, terlepas dari harapan-harapan pribadi para sarjana yang mempelajarinya dan juga dari penilaian baik buruk mengenai gejala-gejala atau unsur yang dijumpai di dalam tubuh masyarakat itu, sehingga timbulah ilmu pengetahuan mengenai masyarakat.
Dahulu kala semua ilmu pengetahuan yang dikenal dewasa ini merupakan bagian dari filsafat yang dianggap sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan (mater of scentiarum). Filsafat pada masa itu mencakup pula segala usaha-usaha pemikiran mengenai masyarakat. Lama kelamaan searah dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan peradaban manusia, pelbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat memisahkan diri dan berkembang mengejar tujuan masing-masing.
Sosiologi dinamakan ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai obyek yang dipelajari. Istilah sosial (social) mempunyai arti yang berbeda antara sosial dan sosialisme. Sosial pada ilmu-ilmu sosial menunjuk pada obyek yaitu masyarakat, sedangkan sosialisme adalah menunjuk pada suatu ideologi (pemikiran).
Menurut Berger sosiologi berkembang manakala masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang dianggap “krisis”, sehingga menuntut terjadinya suatu perubahan sosial (social change). Sosiologi mulai berkembang adalah dimulai abad ke-15 ketika Eropa mengalami revolusi industri. Proses perubahan jangka panjang di Eropa ditandai dengan beberapa persoalan, di antaranya:
– Tumbuh dan meningkatnya perilaku individualisme-kapitalisme-borjuisme pada abad ke-15
– Perubahan di bidang sosial-politik (birokrasi)
– Reformasi gereja (Marthin Luther)
– Lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi baru (industri modern)
– Revolusi birokrasi dan politik
– Urbanisasi

Tokoh pemikir sosiologi:
1. Auguste Comte ( Perancis 1798-1857)
– Masyarakat adalah social physics
– Hukum kemajuan manusia (jenjang berpikir); teologi, metafisika, positif (hukum ilmiah)
– Pemikir positivisme (obyek dikaji berupa fakta, bermanfaat, kepastian dan kecermatan) sarana melakukan kajian ilmiah adalah; pengamatan, perbandingan, eksperimen, dan metode histories.
– Sosiologi; ratu ilmu-ilmu sosial
– Statics social-dynamics social

2. Karl Marx (Jerman 1818-1883)
– Sosialisme-komunism-proletariansm
– Revolusi total

3. Emile Durkheim (1858–1917)
– Fakta sosial
– Teori solidaritas mekanik-organik
– Pembagian kerja sosial berdasarkan perkembangan teknologi

4. Max Weber (Jerman 1864-1920)
– Kapitalisme
– Materialism

Source : Diktat Perkuliahan “Pengantar Ilmu Sosiologi”
Dosen : Dr. Ir. Yadi Suryadi, M.Si

Leave a Reply